Kamis, 05 Juli 2012

BEBERAPA CABANG ILMU LINGUISTIK

BEBERAPA CABANG ILMU LINGUISTIK Tulisan ini akan menguraikan cabang ilmu linguistik secara garis besar, yang meliputi fonetik dan fonologi, morfologi sintaksis dan semantik. Disamping itu juga dibahas ilmu inter disipliner dari linguistik ini. A. Bidang-bidang Linguistik Memang setiap ilmu pengetahuan meliputi bahan yang luas sekali, dan demi alasan praktis para ahli suka membagi ilmunya menjadi berbagai bidang bawahan atau cabang ilmunya. Demikian pula ilmu linguistik lazimnya dibagi menjadi bidang bawahan yang bermacam-macam. Misalnya saja, ada linguistik antropologis, yang cara penyelidikan linguistik yang dimanfaatkan oleh para ahli antropologi budaya; ada juga linguistik sosialogis, atau (lebih lazim) sosiolinguistik, untuk meneliti bagaimanakah dalam bahasa itu dicerminkan hal-hal sosial dalam golongan penutur tertentu. Dewasa ini semakin berkembanglah apa yang disebut lingistik komputasional, yaitu penelitian linguisti dengan bantuan komputer. Akan tetapi, bidang-bidang bawahan tadi semuanya mengandaikan adanya pengetahuan linguistik yang mendasarinya. Bidang yang mendasari itu adalah bidang yang menyangkut struktru-struktur dasar tertentu, yaitu: struktur bunyi bahasa, yang bidangnya disebut “fonetik” dan “fonologi”; struktur kata, yang namanya “morfologi”; struktur antar-kata (sintaksis): dan keduanya dibedakan dengan “leksikon” atau perbendaharaan kata. Penelitian “leksikon” itu disebut “leksikologi”. Di antara bidang-bidang “dasariah” tadi dibedakan juga antara linguistik “sinkronik” dan lingistik “diakronik”. Misalnya, penelitian singkronik tentang bahasa Indonesia menangani kaidah bahasa Indonesia pada zaman sekarang. Sebaliknya, penelitian diakronik (atau “historis”) memaparkan tentang “sejarah” bahasa. Sebagai contoh perhatikanlah bentuk pun dalan bahasa Indonesia. Bentuk tersebut memenuhi fungsi-fungsi tertentu dalam bahasa Indonesia modern, dan penelitian terhadap fungsi tersebut adalah peneltian “Singkronik”. Sebaliknya, dalam bahsa Melau Klasik, bentuk kecil (atau “Partikel”) pun yang “sama” agak lain fungsinya, seperti dapat dibuktikan oleh penelitian “diakronik” Hanya cabang-cabang lingistik yang “dasariah” itulah yang dibahas dalam buku ini. B. Fonetik dan Fonologi Tuturan bahasa terdiri atas bunyi yang agak berbeda-beda menurut bahasa tertentu. Bunyi tersebut diselidiki oleh fonetik dan fonologi. Fonetik meneliti bunyi bahsa menurut cara pelafalannya, dan menurut sifa-sifat akustiknya. Berbeda dengan fonologi, ilmu fonologi meneliti bunyi bahsa tertentu menurut fungsinya. Misalnya saja, bunyi {p}-lazimnya bunyi menurut sifat fonetisnya diapit antara kurang persegi dalam bahasa Inggris dilafalkan dengan menutup kedua bibir lalu melepaskannya sehingga udara keluar dengan “meletup”. Deskripsi seperti itu adalah deskripsi fonetis. Deksripsi yang demikian dapat disempurnakan lebih terinci. Misalnya, dalam kata (Inggris) pot, [p¬h]-nya “beraspirasi”, artinya disusul bunyi seperti bunyi “letupan” pada awal kata; akan tetapi dalam kata spot, [p]-nya tidak “beraspirasi” demikian” (karena tidak merupakan satu-satunya ‘konsonan” pada awal kata). Perbedaan tersebut adalah perbedaan fonetis semata-mata, tidak fonologis. Dua bunyi yang secara fonetis berbeda dikatakan mempunyai perbedaan fonologis bila perbedaan tersebut menyebabkan perbedaan makna antara dua kata. Misalnya saja, dalam bahasa Indonesia [l) dan [r] berbeda secara fungsional, atau secara fonologis, karena membedakan kata seperti dalam pasangan rupa; lupa. Maka untuk bahasa Indonesia /l/ dan /r/ merupakan “fonem” yang berbeda (lazimnya, lambang fonem diapit antara garis miring). Sebaliknya, dalam bahasa Jepang, (l) dan [r] tidak pernah membedakan kata-kata yang berbeda; atau, dengan perkataan lain, tidak bebeda secara fonologis, tidak merupakan fonem yang berbeda. C. Morfologi Ilmu morfologi menyangkut struktur “internal” kata. Beberapa contoh akan menjelaskan hal itu. Perhatikanlah kata seperti tertidur. Kata ini terdiri atas dua “morfem”, yakni ter-dan tidur (ter-diberi garis karena tidak pernah berdiri sendiri). Jadi kata tertidur mempunyai struktur “internal” dengan bagian-bagianya ter-tidur. Penganalisisan seperti itu disebut “morfologi”. Kata tidur itu sendiri terdiri atas satu morfem saja, yaitu tidur. Perhatikanlah juga kata Inggris comfort; satu morfem saja. Kata Compfort-able terdiri atas dua morfem. D. Sintaksis Sintaksis adalah cabang linguistik yang menyangkut susunan kata-kata di dalam kalimat. Misalnya, di dalam bahasa Indonesia kalimat “Kami tidak dapat melihat pohon itu”, urutan katanya sudah tentu tidak mungkin kita tuturkan “kalimat” seperti *Pohon itu dapat kami tidak melihat (binatang kecil, atau “asterik”, pada awal melambangkan tidak “beresnya” “Kalimat” seperti itu). Demikian pula, urutan kata dalam “kalimat” Inggris seperti *we not tree that see can menyalahi aturan-struktur yang sesuai adalah we cannot see that tree. Morfologi dan sintaksis bersama-sama termasuk “tatabahasa. Maka dari itu hal-hal yang dipaparkan sampai sejauh ini sudah menunjukkan adanya suatu “hierarki”, Bagai 1. Hierarki struktur bahasa Fonetik ditempatkan paling bawah, karena hanya menyangkut bunyi bahsa dari sudut “fisik”. Fonologi membedakan fonem-fonem dalam bahasa tertentu, dan masing-masing fonem membedakan kata-kata menurut artinya (seperti dalam hal rupa : lupa tadi). Jadi fonologi sungguh-sungguh termasuk struktur bahasa, dan bersifat “fungsional”, namaun tidak termasuk tatabahasa. Akhirnya, pada bagian paling atas dalam hierarki ini, dapat kita tempatkan tatabahasa, dan di dalam tatabahasa itu yang paling atas adalah sintaksis, dengan morfologi di bawahnya. E. Leksikologi Istilah “leksikon” dalam ilmu linguistik bearti perbendaharaan kata-kata itu sendiri sering disebut “leksem”. Cabang linguistik yang berurusan dengan leksikon itu disebut “leksikologi”. Istilah “ leksikologi” agak jarang dipakai, karena urusan utama para ahli leksilologi” agak jarang dipakai, karena urusan utama para ahli leksikologi adalah penyusunan kamus, dan penyusunan kamus disebut “ leksikografi”. Leksikografi itu tidak lain adalah bentuk “terapan dari leksikologi. Setiap bahasa mempunyai perbendaharaan kata yang cukup besar, meliputi puluhan ribu kata. Setiap kata mempunyai arti, atau makna, sendiri, dan urusan leksikografi tidak lain adalah pemerian arti masing-masing leksem. Leksikologi jelas berhubungan leksikon dengan struktur fonologi itu, ada beberapa segi yang menarik perhjatian, tetapi disini akan disebutkan satu saja. Bandingkan leksem-leksem Inggris meat dan flesh. Perbendaan kedua leksem tersebut dapat dijelaskan sebagai beriktu; apa yang dirujuk dengan kata meat dapat dimakan, apa yang dirujuk dengan kata flesh tidak. Akan tetapi, dalam bahasa Indonesia kedua-duanya termasuk leksem daging, atau dalam leksem Belanda vlees. Jadi, yang dibedakan dalam bahasa Inggris adalah menurut “mungkin tidaknya dimakan”, sedangkan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Belanda tidak ada perbedaan dalam hal itu. Contoh sederhana ini menunjukkan adanya sistem leksikal yang lebih berbelit-belit dalam bahasa tertentu bila dibandingkan dengan bahasa tertentu yang lain. F. Semantik Semantik adalah cabang linguistik yang membahas arti atau makna. Contoh jelas dari perian atau “deskripsi” semantis adalah leksikografi: masing-masing leksem diberi perian artinya atau maknanya; perian semantis. Di pihak lain, semantik termasuk tatabahasa juga. Contohnya adalah morfologi. Dalam bentuk (Inggris) un-comfort-able, morfem un- jelas mengandung arti “tidak”; uncomfortable artinya sama dengan not comfortable. Demikian pula, bentuk Indonesia memper-table mengandung morfem memper-, yang artinya boleh disebut “kausatif”; maksudnya, mempertebal artinya ‘menyebabkan sesuatu menjadi lebih tebal’ (perian makna dalam ilmu linguistik lazim dilambangkan dengan mengapitnya antara tanda petik tunggal). Di dalam sintaksis ada pula unsur semantis tertentu. Analisislah kalimat saya membangun rumah. Saya disebut “subjek”, dan subjek itu adalah ‘pelaku’ kegiatan terntentu (yaitu membangun). Sebaliknya, rumah (dalam kalimat tadi) “menderita” kegiatan membangun, dan boleh disebut ‘penderita’. Jadi makna tertentu pasti ada dalam sintaksis, meskipun tentunya bukan makna leksikal; makna itu disebut “makna gramatikal”. G. Pragmatik Pragmatik merupakan cabang ilmu linguistik yang membahas tentang apa yang termasuk struktur bahasa sebagai alat komunikasi antara punutur dan pendengar, dan sebagai pengacuan tanda-tanda bahasa pada hal-hal “ekstralingual” yang dibicarakan. Disini hanya satu dua contoh saja memadai. Perhatikanlah kalimat Inggris John went home and had a snack. Di sini ada dua klausa: John went home, dan John had a snack. Kedua klausa tersebut digabungkan menjadi satu kalimat. Catatlah bahwa “subjek” John dalam klausa kedua dihilangkan. Dalam analisis linguistik pelesapan subjek itu sering dilambangkan dengan simbol- (angka nol tembus garis miring), sehingga kalimat tadi dapat diberi bentuk John went home and-had a snack. Subjek kedua menjadi “nol” karena tidak dibutuhkan oleh pendengar untuk mengerti apa yang dituturkan. Dengan perkataan lain, subjek kedua dilesapkan demi kemudhan komunikasi. Demikian pula dalam kalimat Indonesia suryanto pulang dan-mengambil makanan kecil. Daripada melesapkan subjek kedua kita dapat juga memakai he atau dia dalam kalimat-kalimat tadi : [Ɵ] and he had a snak, dan [Ɵ] dan dia mengambil makanan kecil. (titik-titik yang diapit antara kurang persegi sering dipakai untuk menghilangkan sebagaian dari suatu teks) he dan dia mengacu pada john, dan hal itu dimengerti oleh pendengar karena john telah disebut terlebih dahulu, yaitu John. Kebutuhan komunikasi dan pengacuan termasuk juga dalam struktur bahasa, dan struktur tersebut dapat agak berbeda-beda dalam bahasa-bahasa yang berlainan. H. Linguistik Sinkronik dan Linguistik Diakronik Kedua istilah itu berasal dari Ferdinand de Saussure. Pada abad ke 19 hampir seluruh bidang linguistik merupakan linguistik historis, khususnya menyangkut bahasa –bahasa Indo-Eropa. Yang diteliti pada zaman itu adalah, misalnya, bagaimanakah bahasa Yunani Kuno dan bahasa Latin menunjukkan keserupunan. Hal tersebut ditemukan berkat penelitian tentang bahasa sanskerta. Pada abad itu diteliti pula bagimanakah rumpun bahasa-bahasa german (seperti bahasa jerman, bahasa belanda, bahasa inggris, dan bahasa-bahasa skandinavia) salaing berbuhungan secara historis; dan bagaimanakah bahasa-bahasa Roman (seperti bahasa Prancis, bahasa Oksitan, bahasa Spanyol, bahasa Portugis, dan lain sebagainya) diturunkan dari bahasa latin. Dalam bukunya Cours de linguistique generale, de saussure menganjurkan suatu studi bahasa yang tidak hanya meneliti hal-hal yang historis (“diakronik”, istilahnya), tetapi juga “struktur” bahasa tertentu tanpa memperhatikan segi diakroniknya-penelitian baru itu dinamainya “sinkronik”. Secara sinkronik, umpamanya, kita dapat bertanya bagaimana sekarang ini hubungan antara awalan ber- dan men-, tanpa memperdulikan tentang awalan yang dulu (dalam bahasa melayu kuno) pernah menjadi sumber dari kedua awalan tersebut, yaitu awalan mar-, demikian pula, untuk bahasa Inggris bila diteliti secara sinkronik, tidak perlu dihiraukan tiadanya akhiran untuk ajektiva, meskipun ada banyak akhiran yang demikaian dalam bahasa Inggris kuno, sebelum tahun 1000 Masehi. Dalam buku ini hanya linguistik sinkronik saja yang dipaparkan, sebagai persiapan untuk mengadakan penelitian tentang bahasa Indonesia dan bahasa lainnya yang belum punah. Meskipun demikian, di sana-sini akan diberikan beberapa contoh pula dari bahsa-bahasa yang sudah punah, tetapi juga dari sudut singkronik, yaitu tanpa memperhatikan sejarahnya sebelumnya. Akan tetapi perlu disadari bahwa linguitik diakronik itu penting juga. Misalnya saja, bila kita tahu tatabahasa bahasa Melayu Kuno, akan lebih mudahlah bagi kita untuk membuka persepektif baru untuk penelitian bahasa Indonesia yang sekarang. I. Linguistik Teoritik Banyak ilmu biasanya dibedakan menurut aspek teoritiknya dan manfaatnya secara paraktis. Misalnya, ilmu psikologi meneliti pengalaman manusia menurut perkembangannnya, emosinya, perasaanya, wataknya, hubungannya dengan sesama manusia, dan lain sebagainya. Dalam bidang kaunseling, pesikologi “diterapkan” pada persoalan konkrit, dan disebut psikologi terapan. Di atas sudah disebut bahwa bidan leksikologi, yaitu penelitian sematis tentang perbendaharaan kata, dapat dimanfaatkan tuntuk “leksilografi” atau penyusunan kamus. Dengan demikian leksikografi dapat disebut leksikologi terapan. Demikian pula, pengetahuan dan penguasaan bidang linguistik banyak sekali manfaatnya untuk pengajaran bahasa, misalnya, mengapa orang indonesia mengalami kesulitan dalam berbagai hal, bila belajar bahasa Inggris? Salah satu contoh kesulitan itu adalah pemakainan kata sandang (atau “artikel”) Inggris the. Pengajar bahasa Inggris di Indonesia akan memahami kesulitan itu dengan lebih baik bila ia mempunyai pengetahuan yang memadai tentang “kedefinitan” dalam bahasa Indonesia dan dalam baghasa Inggris. Maka pemanfaatan pengetahuan linguistik dalam pengajaran bahasa asing adalah salah satu bentuk linguistik. Dewasa ini linguistik juga dimanfaatkan untuk penyusunan program-program komputer, seperti terjemahan dengan bantuan komputer. (Disunting dari :J.W.M Verhaar)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar