Rabu, 13 Juni 2012

ASAL MULA SUKU KUTAI

Suku Kutai adalah suku asli yang mendiami wilayah Kalimantan Timur yang mayoritas saat ini beragama Islam dan hidup di tepi sungai. Suku Kutai merupakan bagian dari rumpun Suku Dayak, khususnya dayak rumpun ot-danum. Pada awalnya Kutai merupakan nama suatu teritori tempat bermukimnya masyarakat asli Kalimantan atau Dayak. Namun seiring berjalannya waktu terbentuklah Suku Kutai yang kebudayaannya merupakan asimilasi budaya Suku Dayak dengan pendatang terutama Jawa, karena peperangan zaman dulu ( Antara Dinasti Kartanegara dari Jawa dan Kutai Mulawarman yang berasal dari Kalimantan sendiri ). Suku Kutai berdasarkan jenisnya adalah termasuk suku melayu tua sebagaimana Suku Dayak di Kalimantan Timur. Oleh karena itu secara fisik Suku Kutai mirip dengan Suku Dayak rumpun ot-danum. Hubungan Kekerabatan Suku Kutai dengan Suku Dayak diceritakan juga dalam tradisi lisan Suku Dayak dengan berbagai versi di beberapa sub suku rumpun ot danom ( Karena masing - masing sub suku memiliki sejarah tersendiri ). Adat-istiadat lama Suku Kutai banyak kesamaan dengan adat-istiadat Suku Dayak rumpun ot-danum (khususnya tunjung-benuaq) misalnya; erau (upacara adat yang paling meriah), belian (upacara tarian penyembuhan penyakit), memang, dan mantra-mantra serta ilmu gaib seperti; parang maya, panah terong, polong, racun gangsa, perakut, peloros, dan lain-lain. Dimana adat-adat tersebut dimiliki oleh Suku Kutai dan Suku Dayak. Bahkan hingga saat ini masih ada Suku Kutai di Desa Kedang Ipil, Kutai Kartanegara yang menganut kepercayaan kaharingan sama halnya dengan Suku Dayak. Etimologi Pada awalnya Kutai bukanlah nama suku, akan tetapi nama tempat/wilayah dan nama Kerajaan tempat ditemukannya prasasti Yupa oleh peneliti Belanda. Kemudian lambat laun 'Kutai menjadi nama suku. Sama halnya dengan dayak yang bukan merupakan nama suku dulunya karena istilah dayak merupakan nama pemberian peneliti Belanda. Menurut tradisi lisan masyarakat kutai, Nama Kutai berawal dari nama Kerajaan Kutai Martadipura di Muara Kaman, sebenarnya nama kerajaan ini awalnya disebut Queitaire (Kutai) oleh Pendatang dan Pedagang awal abad masehi yang datang dari India selatan yang artinya Belantara dan Ibukota Kerajaannya bernama Maradavure (Martapura) berada di Pulau Naladwipa dan letaknya di tepi Sungai Mahakam di seberang Persimpangan Sungai Kanan Mudik Mahakam yakni Sungai Kedang Rantau asal nama Kota Muara Kaman sekarang. Dalam berita Campa atau Cina disebut Kho-Thay artinya Kota Besar atau Bandar Kerajaan Besar. Ada pendapat lain, bahwa Sumpah Palapa Patih Gajah Mada di Majapahit sempat menyebutkan Tunjung Kuta, ada pula yang mengatakan tulisan yang benar adalah Tunjung Kutai, akan tetapi ini pada masa Kerajaan Kartanegara. Dari pemaparan di atas diketahui bahwa Kutai pada masa itu adalah nama Kerajaan/kota/wilayah tempat penemuan prasasti bukan nama suku (etnis) dan hubungan kekerabatan Suku Kutai dan Suku Dayak sangat kuat. Hanya saja pengaruh agama Islam dan akulturasi pendatang yang menyebarkan agama Islam ( Sumatra, Cina, Banjar, Bugis, Jawa ) serta perang antar kerajaan ( Dinasti Kartanegara dari Majapahit yang memenangkan peperangan melawan kerajaan Kutai Martadipura ) pada saat itu mengakibatkan budaya Suku Kutai menjadi agak berbeda dengan Suku Dayak saat ini. Bahasa Bahasa Kutai terbagi ke dalam 4 dialek yang letaknya tidak saling berdekatan : 1. Kutai Tenggarong (vkt) 2. Kutai Kota Bangun (mqg) 3. Kutai Muara Ancalong (vkt) 4. Kutai Sengata/Sangatta (belum ada kode bahasanya) Disamping memiliki beberapa persamaan kosa kata dengan bahasa Banjar, Bahasa Kutai juga memiliki persamaan kosa kata dengan bahasa Dayak Iban, misalnya : • nade (Bahasa Kutai Kota Bangun); nadai (Bahasa Kantu'), artinya tidak • celap (Bahsa Kutai Tenggarong; celap (Bahasa Dayak Iban, Bahasa Tunjung), jelap (Bahasa Benuaq) artinya dingin • balu (Bahasa Kutai Tenggarong), balu (Bahasa Iban, balu' Bahasa Benuaq), artinya janda • hek (Bahasa Kutai Tenggarong), he' (Bahasa Tunjung), artinya tidak Asal Mula Menurut tradisi lisan dari Suku Kutai, Proses perpindahan penduduk dari daratan asia yang kini disebut provinsi Yunan - Cina selatan berlangsung antara tahun 3000-1500 Sebelum Masehi. Mereka terdiri dari kelompok yang mengembara hingga sampai di pulau Kalimantan dengan rute perjalanan melewati Hainan, Taiwan, Filipina kemudian menyeberangi Laut Cina Selatan menuju Kalimantan Timur. Pada saat itu perpindahan penduduk dari pulau satu ke pulau lain tidaklah begitu sulit kerena pada zaman es permukaan laut sangat turun akibat pembekuan es di kutub Utara dan Selatan sehingga dengan hanya menggunakan perahu kecil bercadik yang diberi sayap dari batang bambu mereka dengan mudah menyeberangi selat karimata dan laut cina selatan menuju Kalimantan Timur. Para imigran dari daratan Cina ini masuk ke Kalimantan Timur dalam waktu yang berbeda, kelompok pertama datang sekitar tahun 3000-1500 Sebelum Masehi termasuk dalam kelompok ras Negrid dan weddid kelompok ini diperkirakan meninggalkan Kalimantan dan sebagiannya punah. Kemudian sekitar tahun 500 sebelum masehi berlangsung lagi arus perpindahan penduduk yang lebih besar dan kelompok inilah yang diperkirakan menjadi cikal bakal penduduk Kutai. Setelah adanya arus perpindahan penduduk dari Yunan terjadilah percampuran penduduk kerena perkawinan. Penduduk Kutai pada masa itu terbagi menjadi lima puak (lima suku): 1. Puak Pantun 2. Puak Punang 3. Puak Pahu 4. Puak Sendawar 5. Puak Melani Puak Pantun Puak Pantun adalah suku tertua di Kalimantan Timur, dan merupakan suku atau Puak yang paling Tua diantara 5 Suku atau Puak Kutai lainya, mereka adalah suku yang mendirikan kerajaan tertua di Nusantara yaitu kerajaan Kutai Martadipura di Muara Kaman pada abad 4 Masehi. Raja pertamanya dikenal dengan nama Kudungga, dan kerajaan ini jaya pada masa dinasti ketiganya yaitu pada masa Raja Mulawarwan. Dibawah pimpinan Maharaja Mulawarman, kehidupan sosial dan kemasyarakatan diyakini berkembang dengan baik. Pemerintahan berpusat di Keraton yang berada di Martapura wilayah kekuasaannya terbentang dari Dataran Tinggi Tunjung (Kerajaan Pinang Sendawar), Kerajaan Sri Bangun di Kota Bangun, Kerajaan Pantun di Wahau, Kerajaan Tebalai, hingga ke pesisir Kalimantan Timur, seperti Sungai China, Hulu Dusun dan wilayah lainnya. Dengan penaklukan terhadap kerajaan-kerajan kecil tersebut, kondisi negara dapat stabil sehingga suasana tentram dapat berjalan selama masa pemerintahannya. Suku ini mendiami daerah Muara Kaman Kab. Kutai Kartanegara dan sampai Daerah Wahau dan Daerah Muara Ancalong, serta Daerah Muara Bengkal, Daerah Kombeng di dalam wilayah Kab.Kutai Timur sekarang. Puak Punang Puak Punang (Puak Kedang) adalah suku yang mendiami wilayah pedalaman. Diperkirakan suku ini adalah hasil percampuran antara puak pantun dan puak sendawar (tunjung-benuaq). Oleh karena itu, logat bahasa Suku Kutai Kedang mengalunkan Nada yang bergelombang. Misalya bahasa Indonesia “Tidak”, Bahasa Kutai “Endik”, Bahasa Kutai Kedang “Inde”…. tegas alas gelombang. Suku ini mendirikan kerajaan Sri Bangun di Kota Bangun (atau dikenal dengan nama Negeri Daha pada masa pemerintahan Kutai Matadipura). Puak punang ini tersebar diwilayah Kota Bangun, Muara Muntai, danau semayang, Sungai Belayan dan sekitarnya. Puak Pahu Puak Pahu adalah suku yang mendiami wilayah kedang pahu. Suku ini tersebar di muara pahu dan sekitarnya. Puak Sendawar Puak Sendawar adalah suku yang mendiami wilayah sendawar (Kutai Barat), suku ini mendirikan Kerajaan Sendawar di Kutai Barat dengan Rajanya yang terkenal dengan nama Aji Tulut Jejangkat. Suku ini mendiami daerah pedalaman. Mereka berpencar meninggalkan tanah aslinya dan membentuk kelompok suku masing-masing yang sekarang dikenal sebagai suku Dayak Tunjung, Bahau, Benuaq, Modang, Penihing, Busang, Bukat, Ohong dan Bentian. • Suku Tunjung mendiami daerah kecamatan Melak, Barong Tongkok dan Muara Pahu • Suku Bahau mendiami daerah kecamatan Long Iram dan Long Bagun • Suku Benuaq mendiami daerah kecamatan Jempang, Muara Lawa, Damai dan Muara Pahu • Suku Modang mendiami daerah kecamatan Muara Ancalong dan Muara Wahau • Suku Penihing, suku Bukat dan suku Ohong mendiami daerah kecamatan Long Apari • Suku Busang mendiami daerah kecamatan Long Pahangai • Suku Bentian mendiami daerah kecamatan Bentian Besar dan Muara Lawa Selain suku-suku tersebut, terdapat pula suku-suku lain yaitu suku Dayak Kenyah, Punan, Basap, dan Kayan. • Suku Kenyah merupakan pendatang dari Apo Kayan, Kab. Bulungan. Kini suku ini mendiami wilayah kecamatan Muara Ancalong, Muara Wahau, Tabang, Long Bagun, Long Pahangai, Long Iram dan Samarinda Ilir. • Suku Punan merupakan suku Dayak yang mendiami hutan belantara di seluruh Kalimantan Timur mulai dari daerah Bulungan, Berau hingga Kutai. Mereka hidup dalam kelompok-kelompok kecil di gua-gua batu dan pohon-pohon. Mereka dibina oleh Departemen Sosial melalui Proyek Pemasyarakatan Suku Terasing. • Suku Basap menurut cerita merupakan keturunan orang-orang Cina yang kawin dengan suku Punan. Mereka mendiami wilayah kecamatan Sangkulirang. • Suku Kayan berasal dari Kalimantan Tengah, suku ini sering juga disebut dengan suku Biaju. Mereka mendiami daerah kecamatan Long Iram. Puak Melani Puak Melani adalah suku yang mendiami wilayah pesisir. Mereka merupakan suku termuda diantara puak-puak Kutai, di dalam suku ini telah terjadi percampuran antara suku kutai asli dengan suku pendatang yakni; Banjar, Bugis, Jawa dan Melayu. Sehingga Puak ini memang sudah merupakan kesatuan etnis. Suku ini mendirikan kerajaan Kutai Kartanegara. Raja pertamanya bernama Aji Batara Agung Dewa Sakti. Suku ini mendiami wilayah pesisir seperti Kutai Lama dan Tenggarong. Dalam perkembangannya puak pantun, punang, pahu dan melani kemudian berkembang menjadi suku kutai yang memiliki bahasa yang mirip namun berbeda dialek. Sedangkan puak sendawar (puak tulur jejangkat) yang hidup di pedalaman oleh Peneliti Belanda disebut dengan istilah Orang Dayak. Terpecahnya Puak Tanah Kutai melahirkan Orang Dayak dan Orang Kutai Disinilah awal terbaginya dua golongan atau kelompok suku asli di Tanah Kutai, yakni Suku Dayak dan Suku Kutai (haloq). Haloq adalah sebutan bagi Suku Dayak atau suku asli Tanah Kutai yang keluar dari adat/budaya/kepercayaan nenek moyang ( Adat, budaya, serta kepercayaan nenek moyang tersebut masih terlihat dari ciri khas Suku Dayak saat ini). Mereka yang behaloq ( Meninggalkan adat ) lebih menerima dan mau berbaur dengan pendatang akibatnya masyarakat ini lebih sering dijumpai di daerah pesisir. Sebutan haloq mulai timbul ketika suku-suku dari puak-puak kutai di atas mulai banyak meninggalkan kepercayaan lama salah satunya adalah dengan taat pada ajaran Islam, karena adat istiadat, budaya, dan kepercayaan dari suku asli Tanah Kutai tersebut banyak yang bertentangan dalam ajaran Islam. Kemudian karena puak pantun, punang, dan melani sebagian besar meninggalkan adat atau kepercayaan lama mereka, maka mereka mulai di sebut 'orang haloq' oleh puak lain yang masih bertahan dengan kepercayaan lamanya (kepercayaan nenek moyang). Dan puak yang masih bertahan dengan adat/kepercayaan lamanya sebagian besar adalah puak sendawar (puak tulur jejangkat), meskipun sebagian kecil ada juga suku dari puak sendawar yang meninggalkan adat lama (Behaloq). Sejak itulah orang haloq dan orang yg bukan haloq terpisah kehidupannya, karena sudah berbeda adat istiadat. Lambat laun orang haloq ini menyebut dirinya 'orang kutai' yang berarti orang yang ada di benua Kutai atau orang dari wilayah Kerajaan Kutai. Sejak itu lah kutai lambat laun mulai menjadi nama suku, yang mana suku kutai ini berasal dari puak pantun, punang, pahu dan melani dan sebagian kecil puak sendawar. Sekarang Suku Kutai sudah banyak bercampur dengan etnis lain. Terlihat dari budayanya yang merupakan hasil akulturasi dari beberapa budaya suku lain. Terutama Kutai Kartanegara yang berasal dari Jawa dan bercampur dengan suku asli tanah kutai ( saat ini disebut Suku Dayak ) tersebut. Puak sendawar yang sebagian besar masih bertahan dengan adat/kepercayaan lama kemudian berpencar membentuk kelompok-kelompok suku pedalaman dan terasing. Mereka kini menjadi suku Tunjung, Benuaq, Penihing, Oeheng, Bentian, Bahau, Modang dan lain-lain. Mereka adalah suku yang disebut Suku Dayak pada masa kini. Dayak adalah sebutan yang dipopulerkan oleh orang Belanda, dimana mereka menyebut suku - suku asli yang mendiami pedalaman Kalimantan sebagai “Dayaker”. Sehingga istilah dayak sendiri sebenarnya bukan berasal dari leluhur orang Kalimantan itu sendiri. Oleh karena itu masih ada beberapa dari Suku Dayak enggan disebut Dayak. Mereka lebih memilih disebut subsukunya, seperti orang Tunjung, orang Benuaq, dan lain - lain. Jadi yang disebut Suku Kutai sekarang ini adalah suku dari puak pantun, punang, pahu dan melani yang mudah berakulturasi dengan pendatang dan perlahan meninggalkan adat lamanya. Sedangkan Suku Dayak adalah dari puak sendawar yang tetap teguh memegang keyakinan leluhur. Jadi Suku Kutai bukanlah suku melayu muda akan tetapi adalah suku melayu tua, sama seperti Suku Dayak. Pengelompokkan Suku Kutai kedalam ras melayu muda hanya berdasarkan Sosio-religius atau kultural, bukan berdasarkan jenisnya (melayu tua). Saat ini peneliti membagi suku kutai menjadi 4 sub-etnis: 1. Suku Kutai Tenggarong. (yang sebenarnya berasal dari puak melani) 2. Suku Kutai Kota Bangun. (yang sebenarnya berasal dai puak punang) 3. Suku Kutai Muara Pahu. (yang sebenarnya berasal dari puak pahu) 4. Suku Kutai Muara Ancalong. (yang sebenarnya berasal dari puak pantun)

Cara Membuat Makalah


 
Cara Membuat Makalah Yang Baik dan Benar tidak semua  memahaminya, karena Makalah merupakan karya tulis yang bentuknya formal, sehingga semua kata dan kalimat yang terdapat disana haruslah mengikuti kaidah EYD yang baik dan benar.
Bagi siswa yang ingin mengetahui informasi Cara Membuat Makalah Yang Baik dan Benar, berikut rangkuman caranya:

Langkah-Langkah Dalam Membuat Makalah:
1. Sebelum memulai membuat makalah maka anda wajib mempelajari dan         
    menganalisa topik yang akan ditulis.
2. Menyusun pola pikir.
3. Mengumpulkan bahan-bahan/ materi.
4. Dalam menulis sebuah makalah kita dituntut untuk:
    - Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
    - Menyusun kalimat agar lebih mudah dipahami
    - Singkat, padat, dan jelas dalam uraian
    - Rangkaian uraian yang berkaitan

Struktur Penulisan Makalah
1. Lembar Judul
    - Judul makalah
    - Nama dan Nim
    - Nama dan Tempat Perguruan Tinggi
    - Tahun
2. Lembar Pengesahan
3. Kata Pengantar
4. Daftar Isi
5. Daftar Gambar
6. Daftar Tabel
7. Tubuh Makalah


a. Pendahuluan : Terbagi menjadi 3 Sub Bab
    1. Latar belakang
    2. Ruang lingkup
    3. Maksud dan tujuan penulisan
b. Pembahasan
c. Penutup
    - Kesimpulan
    - Saran
d. Daftar Pustaka
e. Lampiran

Format Ukuran Kertas dan Sampul Pembuatan Makalah
a. Kertas : A4 80 gram
b. Sampul : Kertas Buffalo warna Kuning
c. Font : Arial
d. Size : 12
e. Spasi : 1,5
f. Margin
    - Atas : 4 cm
    - Kiri : 4 cm
    - Bawah : 3 cm
    - Kanan : 3 cm
g. Makalah ditulis minimal 10 halaman belum termasuk halaman Judul, Lampiran, dan   
    Daftar Pustaka.
h. Nomor Halaman
    - Letak di kanan atas
    - Angka i,ii,iii,dst. Mulai dari kata pengantar sampai dengan sebelum Bab   
      Pendahuluan.
    - Angka 1,2,dst. Mulai dari Pendahuluan sampai dengan akhir.
Selamat mencoba

Model Pembelajaran Complete Sentence

Model Pembelajaran Complete Sentence
1. Pengertian
Model pembelajaran complete sentence adalah model pembelajaran mudah dan sederhana di mana siswa belajar melengkapi paragraf yang belum sempurna dengan menggunakan kunci jawaban yang tersedia.

Langkah-langkah pembelajarannya sebagai berikut :
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2. Guru Menyampaikan materi secukupnya atau siswa disuruh membacakan buku atau modul dengan  
    waktu    secukupnya.
3. Guru membentuk kelompok 2 atau 3 orang secara heterogen.
4. Guru membagikan lembar kerja berupa paragraf yang kalimatnya belum lengkap.
5. Siswa berdiskusi untuk melengkapi kalimat dengan kunci jawaban yang tersedia.
6. Siswa berdiskusi secara berkelompok.
7. Setelah jawaban didiskusikan, jawaban yang salah diperbaiki. Tiap peserta membaca sampai mengerti   
    atau hafal.
8. Kesimpulan.

2. Prinsip/ ciri-ciri Complete sentence
a. Soal yang disampaikan berupa kalimat yang belum lengkap, sehingga makna/ arti kalimat tersebut belum dapat dimengerti
b. Kalimat yang banyak dan saling berkaitan dalam sebuah paragrap, dan belum sempurna serta belum dimengerti maknanya
c. Kalimat dapat dilengkapi dengan pilihan kata yang disediakan
d. Harus diisi dengan kata-kata tertentu, misal istilah keilmuan/ kata asing.
e. Jawaban dari kalimat yang belum lengkap itu sudah disediakan


3. Kelebihan/kekurangan model pembelajaran complete sentence
a. Kelebihan
1. Mudah dibuat guru, hanya dengan menghilangan satu kata dalam kalimat
2. Siswa tidak perlu menjelaskan jawabannya, hanya perlu memadukan rumpang/tidak jawabannya.
3. Siswa diajarkan untuk mengerti dan hafal mengenai materi

b. Kekurangan
1. Guru kurang kreatif dan inovasi dalam membuat soal
2. Siswa kurang terpacu mencari jawaban karena hanya cukup menebak kata, karena biasanya hanya kata hubung.
3. Kurang cocok untuk dipergunakan dalam setiap bidang studi.

4. Kesimpulan
Model pembelajaran complete sentence adalah model pembelajaran yang sederhana di mana siswa belajar melengkapi paragraf yang belum sempurna dengan menggunakan kunci jawaban yang tersedia. Model pembelajaran ini sebenarna mempermudah guru namun terkadang gurunya kurang inovatif dan kreatif dalam membuat soalnya. Dan siswanya kurang terpacu untuk mencari jawabannya karena hanya tinggal menebak kaata-kata yang rumpang yang jawabannya telah disediakan.

10 Langkah Pembelajaran yang Efektif

10 Langkah Menuju Pembelajaran yang efektif
Mengajar adalah suatu seni. Guru yang cakap mengajar dapat merasakan bahwa mengajar di mana saja adalah suatu hal yang menggembirakan, yang membuatnya melupakan kelelahan. Selain itu guru juga dapat mempengaruhi muridnya melalui kepribadiannya. Guru yang ingin murid-muridnya mengalami kemajuan, perlu mengadakan pengamatan dan penelitian terhadap teori dan praktek mengajar sehingga ia dapat terus-menerus meningkatkan cara mengajar. Sepuluh jenis prinsip dasar dalam cara mengajar yang disajikan di bawah ini, dapat dipakai sebagai petunjuk oleh para pengajar guna meningkatkan cara mengajar mereka.

1) Menguasai Isi /Materi yang Disampaikan
Hukum yang pertama dalam teori “Tujuh Hukum Mengajar” dari John Milton Gregory berbunyi: “Guru harus mengetahui apa yang diajarkan.” Jika guru sendiri mengetahui dengan jelas inti pelajaran yang akan disampaikan, ia dapat meyakinkan murid dengan wibawanya, sehingga murid percaya apa yang dikatakan guru, bahkan merasa tertarik terhadap pelajaran.

2) Mengetahui dengan Jelas Sasaran/Tujuan Pengajaran
Pengajaran yang jelas sasarannya membuat murid melihat dengan jelas inti dari pokok pelajaran itu. Mereka dapat menangkap seluruh liputan pelajaran, bahkan mengalami kemajuan dalam proses belajar. Empat macam ciri khas yang harus diperhatikan pada saat memilih dan menuliskan sasaran pengajaran:
(a).    Inti dari sasaran harus disebutkan dengan jelas.
(b).    Ungkapan penting dari sasaran harus bertitik tolak dari konsep murid.
(c).    Sasaran harus meliputi hasil belajar.
(d).    Hasil sasaran yang dapat dicapai.
Contoh: Contoh-contoh di atas telah menjelaskan empat macam hasil belajar yang berbeda: pengetahuan, pengertian, sikap, dan ketrampilan.

3) Utamakan Susunan yang Sistematis (berurutan)
Pengajaran yang tidak bersistem bagaikan sebuah lukisan yang semrawut, tidak memberikan kesan yang jelas bagi orang lain. Tidak adanya inti, tidak tersusun, tidak sistematis, akan sulit dipahami dan sulit diingat. Oleh sebab itu inti pengajaran harus disusun dengan teratur dan sistematis.

4) Banyak Gunakan Contoh Kehidupan (contoh  yang kongkrit/nyata)
Pada saat mengajar, seringlah menggunakan contoh atau perumpamaan kehidupan sehari-hari atau yang pernah dialami misalnya dalam perdagangan, rental, nilai uts / uas, dan lain sebagainyaContoh kehidupan adalah jembatan antara kebenaran ilmu dan dunia nyata    

5) Cakap/Mampu  Menggunakan Bentuk Cerita             
Bentuk cerita tidak hanya diutarakan dengan kata-kata, namun juga boleh dicoba dengan menambahkan gerakan-gerakan, yang memperdalam kesan murid. Bentuk yang paling lazim adalah menggunakan perumpamaan untuk menjelaskan kebenaran.

6)  Menggunakan Panca Indera Murid
Penggunaan bahan pengajaran yang berbentuk audio visual berarti menggunakan panca indera murid. Bahan pengajaran audio visual bukan saja cocok untuk Sekolah Minggu anak-anak, juga untuk Sekolah Minggu pelbagai usia. Ensiklopedia adalah buku yang sering dipakai oleh para ilmuwan, namun di dalamnya terdapat banyak penjelasan yang menggunakan gambar-gambar. Itu berarti bahwa para ilmuwan pun perlu bantuan gambar untuk mengadakan penelitian. Para ahli pernah mengadakan catatan statistik selama 15 bulan, sebagai hasilnya mereka mendapatkan persentase dari isi pelajaran yang masih dapat diingat oleh murid: bagi murid yang hanya tergantung pada indera pendengaran saja masih dapat mengingat 28%, sedangkan bagi murid yang menggunakan indera pendengaran ditambah dengan indra penglihatan dapat mengingat 78%.

7) Melibatkan Peserta Didik  dalam Pelajaran
Melibatkan murid dalam pelajaran dapat menambah ingatan mereka, juga motivasi dan kegemaran mereka. Cara itu dapat menghilangkan kesalahpahaman yang mungkin terjadi ditengah pertukaran pikiran antara guru dan murid, selain mengurangi tingkah laku yang mengacau. Misalnya: biarkan murid menggunakan kata-katanya sendiri untuk menjelaskan argumentasi atau pendapatnya; biarlah murid menggali dan menemukan hubungan antar konsep yang berbeda, biarlah murid bergerak sebentar. Jika murid sibuk melibatkan diri dengan pelajaran, maka tidak ada peluang lagi untuk mengacau atau membuat ulah.

8) Menguasai Kejiwaan/Psikologi Peserta Didik
Guru yang ingin memberikan pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan murid, tentu harus memahami perkembangan jiwa murid pada setiap usia. Ia juga harus mengetahui dengan jelas kebutuhan dan masalah pribadi mereka. Pengertian antara guru dan murid adalah syarat utama untuk komunikasi timbal balik. Komunikasi yang baik dapat membuat penyaluran pengetahuan menjadi lebih efektif.

9) Gunakanlah Cara Mengajar yang Hidup/Komunikatif
Sekalipun memiliki cara mengajar yang paling baik, namun jika terus digunakan dengan tidak pernah diubah, maka cara itu akan hilang kegunaannya dan membuat murid merasa jemu. Cara yang terbaik adalah menggunakan cara mengajar yang bervariasi dan fleksibel, untuk menambah kesegaran.

10) Jadikan Diri Sendiri Sebagai Teladan
Masalah umum para guru adalah dapat berbicara, namun tidak dapat melaksanakan. Pengajarannya ketat sekali, namun kehidupannya sendiri banyak cacat cela. Cara mengajar yang efektif adalah guru sendiri menjadikan diri sebagai teladan hidup untuk menyampaikan kebenaran, dan itu merupakan cara yang paling berpengaruh. Kewibawaan seseorang terletak pada keselarasan antara teori dan praktek. Jikalau guru dapat menerapkan kebenaran yang diajarkan pada kehidupan pribadinya, maka ia pun memiliki wibawa untuk mengajar.

Unsur-Unsur Drama


 Unsur-unsur Drama

a. Unsur Intrinsik  (unsur dalam)
Unsur intrinsik atau disebut juga unsur dalam adalah unsur yang tidak tampak. Ini yang kita sebut di atas tadi sebagai kajian interteks. Dalam intrinsik ada:
1. tema; yaitu ide pokok yang ingin disampaikan dari sebuah cerita.
    Tema   sering  pula  dikatakan  dengan  nada dasar drama.  Sebuah tema  tidak  
    erlepas   dari manusia  dan  kehidupan, misalkan cinta, maut,  dan  sebagainya.
    Jika  ada  yang  menyebutkan  temanya  romantis,  itu  adalah  bias pengertian.  
    Romantis bukan tema, tetapi gaya yang digunakan oleh penulis.  Dalam  kasus     
    dimaksud sebenarnya temanya adalah cinta/ percintaan. Jalan ceritanya  yang  
    dibuat menjadi romantis. Ini hanya perkara gaya/style (di lain waktu akan  kita
    bicarakan masalah gaya atau style penulis tersebut).
2. alur/ plot; yaitu jalan cerita.
    Dalam  alur  sebuah naskah  drama bukan  permasalahan  maju-mundurnya se-
     buah cerita seperti yang dimaksudkan dalam karangan prosa, tetapi alur  yang  
     membimbing cerita dari awal hingga tuntas. Dimulai dengan pemaparan (per-
     kenalan awal tokoh dan penokohan), adanya masalah (konflik), konflikasi (ma-
     salah baru), krisis (pertentangan mencapai titik puncak–klimak s.d.antikli
     maks), resolusi (pemecahan masalah), dan ditutup dengan ending(keputusan).  
     Ada pula yang menggambarkan alur dalam sebah naskah drama itu pemapa-
     ran—masalah—pemecahan masalah/resolusi keputusan.
3. penokohan; karakter yang dibentuk oleh setiap dialog tokoh.
4. latar/ setting; yaitu tempat kejadian.
     Latar atau setting berbicara masalah tempat, suasana, dan waktu.
5.  amanat; yaitu pesan yang hendak disampaikan penulis dari sebuah cerita.   
     Jika tema bersifat lugas, objektif, dan khusus, amanat lebih umum, kias, dan
     subjektif.                                            

b.  Unsur  Ekstrinsik  (unsur luar)
Unsur-unsur luar adalah unsur yang tampak, seperti adanya dialog/ percakapan. Namun, unsur-unsur ini bisa bertambah ketika naskah sudah dipentaskan.
Di sana akan tampak panggung, properti, tokoh, sutradara, dan penonton.


Unsur-Unsur Drama
Kata drama berasal dari istilah Yunani yang berarti gerak, perbuatan, laku. Drama tidak lain adalah suatu segi kehidupan yang dihidangkan dengan gerak. Secara umum drama diartikan sebagai kisah hidup dari kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas, disaksikan oleh orang banyak dengan media percakapan, gerak, dan laku yang didasarkan pada naskah tertulis.

Bila dibandingkan dengan cerpen dan novel, maka drama mempunyai bentuk yang khusus, yaitu sebagian besar terdiri dari dialog (percakapan). Tapi kesemuanya mempunyai dasar yang sama yaitu cerita yang diangkat dari hidup dan kehidupan. Selain itu, unsur yang dimiliki pun sama, yaitu plot, karakter, dialog, setting dan intrepretasi kehidupan.

a. Unsur-unsur drama yaitu:
1. lakon
Lakon adalah hasil perwujudan dari naskah yang dimainkan. Lakon yang baik selalu mengandung konflik. Lakon drama disusun atas unsur-unsur yang sama dengan novel dan cerpen, yaitu karakteristik, plot, dialog, penempatan ruang dan waktu.
Plot dan karakteristik adalah dua hal yang saling mendukung. Karakter dan plot dalam drama diwujudkan dalam laku dan dialog.

2. Pemain
Dalam sebuah drama ada pemain yang membawakan lakon drama. Pemain adalah komponen yang menghidupkan konflik yang terdapat dalam drama. Pemain yang baik adalah yang mampu menghidupkan pikiran dan perasaan pengarang.
Ada beberapa istilah untuk para pemain, yaitu:
- Protagonis: peran utama yang merupakan pusat cerita.
- Antagonis : Peran lawan, ia sering menjadi musuh yang menyebabkan konflik terjadi.
- Tritagonis: peran penengah, bertugas menjadi pendamai atau perantara protagonis dan antagonis.
- Peran pembantu: peran yang tidak secara langsung terlibat dalam konflik yang terjadi, tetapi diperlukan        dalam penyelesaian cerita.

3. Tempat (gedung pertunjukan)
Yaitu tempat berlangsungnya pertunjukan drama.

4. Penonton
Kedudukan penonton dalam drama harus dijadikan perhitungan istimewa karena tanpa penonton, maka lakon drama yang dipentaskan tidak mengandung arti.

5. Naskah drama
Naskah drama adalah bentuk tertulis dari cerita drama
Sebuah lakon drama karya siapapun yang berkali-kali dimainkan akan selalu berubah-ubah kualitas artistiknya tergantung dari siapapun dan dimana ia dimainkan. Akan tetapi naskah drama itu sendiri akan tetap, kualitas artistiknya.

B. Alat-alat bagian pembantu drama
1) babak
lakon drama terdiri atas beberapa bagian atau babak (mungkin satu babak, dua babak dan seterusnya). Perubahan suatu babak sering mencerminkan perubahan tempat kejadian dan waktu. Biasanya untuk menandai pembabakan dalam suatu drama ditandai dengan perubahan dekor/setting.

2) Adegan
Dalam babak dari suatu drama terdiri atas beberapa adegan. Perubahan suatu adegan tidak selalu disertai dengan penggantian babak atau dekor.

3) Prolog
Prolog ialah kata pendahuluan yang membuka babak pertama. Prolog memberikan pandangan tentang para pelaku drama serta konflik atau pertentangan yang akan mereka alami dipentaskan.

4) Dialog
Dialog adalah percakapan antar beberapa orang pelaku. Prolog merupakan alat yang paling penting dalam drama. Suatu dialog harus disertai dengan emosi agar tidak mengambang dan mati.

5) Monolog
Monolog adalah percakapan seorang pelaku (aktor) dengan dirinya sendiri.

6) Epilog
Epilog adalah kata penutup yang mengakhiri suatu penentuan lakon drma untuk menarik pelajaran dari apa yang telah dipertunjukan di pentas.

7) Mimiek
Ialah gerak-gerik air muka dan isyarat. Ekspresi air muka untuk memberikan gambaran emosi yang dialami pelaku.

8) Pantomim
Pantomim adalah gerak-gerik anggota tubuh untuk memberikan suatu gambaran emosi tentang apa yang sedang dialami.